Immunisasi Pasif

Ketika vaksinasi (yaitu immunisasi aktif) mendominasi pencegahan penyakit infeksius, immunisasi juga memiliki sejarah yang baik., bermula dari serum anti diphtery sampai degnan sera hyperimmun untuk menjaga bayi manusia terhadap serangan anthrax, botulismus, dan demam ungu, dan pada manusia dewasa dalam melawan varicel+la-zooster, respiratory sycytial virus, hepatitis A dan B, penyakit gondok, campak dan rabies. 
   
Walaupun infeksi virus memicu immunitas seluler dan imunitas humoral, respon antibodimerupakan respon yang utama yang berkontribusi terhadap reduksi terhadap pemasukan virus dan perbaikan. Dalam banyak infeksi virus, level antibodi diambil berkorelasi dengan proteksi. Selama kejadian
viremia, antibodi yang sudah ada atau disuntikkan diarahkan terhadap struktur permukaan virion menempel pada partikel, menetralisir infektivitas mereka dan mempersiapkan mereka untuk dihapus. Secara therapeutic, preparat serum atau immunoglobulin diinjeksikan secara subkutan dan akan mencapa sirkulasi dengan cepat. Seperti sudah diketahui bahwa pemberian plasma (bukan serum) melalui infus intravena juga dapat bekerja dengan baik namun demikian hal ini adalah perlakuan yang lebih sulit dan harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam kondisi infeksi lokal, seperti pada kondisi luka yang disebabkan oleh gigitan karnivora liar, efek proteksi dari antibodi yang timbul setelah gigitan telah terbukti tidak berarti. Immunitas globulin rabies manusia memberikan perlindungan yang cepat ketika diberikan pada hari pertama pengobatan pascara-paparan. Semakin banyak preparat di infiltrasikan ke dalam dan sekitar luka, dan dapat juga untuk diberikan secara intramuskular pada lokasi yang jauh dari vaksin rabies, yang diberikan secara simultan.
Dalam praktek hewan kesayangan, dalam hal pencegahan dengan jalan melaksanakan immunisasi aktif adalah merupakan hal yang umum bahwa terapi serum dipertimbangkan untuk dilaksanakan hanya pada kondisi tertentu saja (misal ketika seekor anjing telah terpapar pada penyakit distemper atau seekor kucing telah terpapa pada panleukopenia, atau dalam kondisi outbreak suatu jenis penyakit pada suatu kernel/cattery). Masi hterdapat pasar bagi produk serum dan immunoglobulin, dan perusahaan-perusahaan yang memproduksinya berada di Amerika, Jerman, Republik Cechnya, Slovakia, Rusia dan Brasil. Baik preparat yang berasal dari homolog atau heterolog (kuda), adalah polivalen (ditujukan untuk melawan beberapa virus) dan terdiri atas fraksi serum atau immunoglobulin.

Meskipun produk sejenis banyak dijual dipasaran, VGG merekomendasikan agar penggunaan produk-produk tersebut secara konservatif, dan hanya diberikan setelah pertimbangan yang matang. Dalam kondisi terjadi outbreak infeksi CDV pada suatu kennel kan lebih aman dan lebih efektif unutk melaksanakan vaksinasi pada setiap ekor anjing dengan vaksin CDV ketimbang memberikan serum immunitas. Pada situasi seperti itu telah direkomendasikan sebelumnya bahwa vaksin MLV lebih baik untuk diberikan secara intravena ketimbang melalui jalur sub cutan atau intramuskular, namun hanya terdapat sedikit bukti bahwa praktek ini memberikan efek perlindungan yang lebih protektif daripada pemberian melalui jalur injeksi subkutan. Pemberian vaksin CDV melalui salah satu jalur tersebut akan mampu memberikan proteksi terhadap keparahan penyakit dan kematian yang cepat setelah vaksinasi. Dalam kondisi ini vaksinasi tidak mampu mencegah infeksi, tetapi akan melindungi hewan dari penyakit (terutama dari penyakit neurologis) sehingga hewan akan bertahan dan selanjutnya akan kebal seumur hidup.
Dalam kondisi outbreak infeksi FPV pada sebuah cattery, atau outbreak infeksi CPV-2 pada sebuah kernel, pengalaman pada masa sekarang ini menunjukkan bahwa jika serum immun diberikan setelah gejala klinis muncul, tidak ada keuntungan dalam reduksi morbiditas atau mortalitas. Supaya dapat menimbulkan efek menguntungkan, serum immun harus diberikan setelah infeksi, sebelum gejala klinis muncul. Serum immun harus diberikan dalam jangka waktu 24-48 jam setelah terjadi infeksi dan diperlukan serum dengan titer sangat tinggi dalam jumlah yang banyak. Serum harus diberikan secara parenteral (dalam hal ini secara sub kutan atau intraperitoneal) dan tidak melalui rute oral. Tidak ada manfaat dari pemberian secara oral, meskipun diberikan sebelum terjadinya infeksi.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa mendapatkan manfaat dari produk-produk ini menjadi pertimbangan yang sangat penting pada situasi di tempat penampungan. Tindakan alaternatif yang kadang ditempuh dalam kondisi penampungan adalah dengan mengumpulkan serum dari hewan yang berada dipenampungan yang berhasil bertahan terhadap serangan penyakit dan telah mendapatkan vaksinasi belum lama ini. Namun demikian, tindakan ini mengandung resiko karena serum yang diambil tidak diskrining dengan baik terhadap kemungkinan keberadaan material patogen yang dapat menjadi sumber penyebaran penyakit (dalam hal ini adalah hemoparasit atau feline retrovirus). Pendekatan yang lebih efektif untuk mengendalikan outbreak penyakit dalam lingkup penampungan adalah dengan menggunakan pengujian serologis. Penentuan titer antibodi dapat mengindentifikasi hewan yang terproteksi (sehingga aman untuk tinggal pada penampungan dalam kondisi paparan terhadap outbreak penyakit) dan hewan yang rentan (sehingga mudah untuk terinfeksi dan kemungkinan akan mengalami kematian) yang seharusnya dieuthanasi. Jika populasi yang rentan tidak di euthanasi, hewan tersebut harus di isolasi dan tidak boleh diadopsi dan tidak boleh di kembangbiakkan sampai pada waktu hewan tersebut dinyatakan tidak terinfeksi